Pagi itu jam 5.30.
Gue bangun, ambil gelas, isi dari dispenser—bukan yang dingin, tapi yang tombol merah. Air panas. Dicampur dikit biar anget-anget kuku.
Terus gue minum. Pelan-pelan.
Sambil minum, gue scroll TikTok. Video pertama: cewek Korea lagi skin cycling. Video kedua: laki-laki Jepang makan natto. Video ketiga: influencer China pakai baju tradisional, minum air hangat, caption-nya “Becoming Chinese: day 7, my gut has never been better”
Gue berhenti.
Air di gelas udah tinggal separo.
Gue liat gelas, liat TikTok, liat gelas lagi.
Ini kan… yang diminum ibu gue.
Setiap pagi. Seinget gue. Sejak gue kecil. Beliau bangun, rebus air, tuang ke teko, minum. Kadang dikasih jahe. Kadang sereh. Kadang cuma air putih anget.
Dulu gue selalu nolak kalo disodorin. “Ah panas, Ma. Males. Gue minum air es aja.”
Ibu cuma diem. Nggak maksa.
Sekarang, 2026. Gue umur 29. Baru pertama kali rutin minum air hangat. Bukan karena ibu. Tapi karena trending di TikTok.
Dan rasanya? Enak.
Perut gue? Nyaman. Nggak kembung. Nggak begah. Sebulan ini gue nggak inget kapan terakhir heartburn.
Gue duduk. Nulis ini.
Dan gue ngerasa… agak malu.
Ironi Yang Sama, Diulang-ulang
Coba lo inget.
Tren matcha. Semua pada beli whisk bambu, upacara minum teh ala Jepang, filter aesthetic. Padahal kita punya teh hitam dan teh hijau dari perkebunan sendiri, harganya seperempat, rasanya nggak kalah.
Tren kombucha. Orang rela nunggu 2 minggu fermentasi, beli scoby impor, takut salah suhu. Padahal nenek kita fermentasi tape, dadih, tempoyak, sejak ratusan tahun lalu. Tapi ya gitu—branding-nya nggak seksi.
Tren bone broth. Kaldu tulang sapi direbus 24 jam, harganya 150 ribu per liter. Padahal emak-emak di pasar jual kaldu sapi fresh, 20 ribu per bungkus. Tapi namanya “kaldu sapi”, bukan “bone broth”.
Nah, sekarang tren Becoming Chinese dateng.
Air hangat. Jahe. Minyak angin. Makanan hangat. Hindari es.
Dan kita semua: Wah, canggih banget! Wellness! Self-care!
Padahal itu mah… ritual sarapan ibu kita pas jam 5 pagi sebelum berangkat jualan.
Bedanya cuma: ibu kita nggak punya kamera ring light. Nggak pake voice over ASMR. Nggak nulis caption “day 14 of becoming Javanese princess”.
Jadi ya nggak viral.
Studi Kasus #1: Sasha, 27, yang Lebih Percaya TikTok daripada Ibunya
Sasha. 27 tahun. Kerja di fintech. Setiap pagi minum apple cider vinegar sebelum sarapan. Katanya: detox, bakar lemak, bikin glowing.
Gue tanya: “Lo nggak mual?”
“Sedikit. Tapi kan untuk kesehatan,” jawabnya.
Satu tahun. Gak ada perubahan berarti. Tapi Sasha tetep lanjut. Karena katanya: influencer A minum ini, influencer B juga. Pasti bener.
Maret 2026. Sasha liat tren Becoming Chinese. Iseng nyoba air jahe hangat tiap pagi. Seminggu kemudian, dia chat gue.
“Gue baru nyadar. Ibu gue tiap pagi minum air jahe. Udah 20 tahun.”
“Terus?”
“Dulu gue selalu nolak kalo disodorin. Kasar, gak keren.”
“Sekarang?”
“Sekarang gue nanya resepnya.”
Dia pause. Terus ngetik lagi.
“Ibu cuma senyum. Nggak bilang ‘tuh kan’. Nggak ngejek. Cuma… senyum.”
Gue baca itu di halte. Nahan air mata.
Tradisi kesehatan Indonesia itu nggak kalah. Cuma kemasannya nggak pernah di-update. Nggak ada yang nge-film-in dengan cinematic lighting. Nggak ada yang kasih caption filosofis.
Jadi kita pikir itu “basi”.
Bukan basi, sayang. Kita aja yang buta.
Studi Kasus #2: Nenek dan 14 Rebusan yang Nggak Pernah Viral
Nenek gue. 78 tahun. Setiap minggu masak 14 macam rebusan. Jahe, kunyit, sereh, daun salam, kencur, temulawak, kayu manis, kapulaga, cengkih—disimpan di botol kaca bekas selai.
Setiap pagi, beliau tuang setengah gelas, tambah air panas, minum.
Gue kecil selalu liat. Nggak pernah nanya.
Gue kira itu cuma… kebiasaan orang tua. Norak.
Sekarang, 2026. Golden milk lagi tren. Susu kunyit. Dijual di kafe 55 ribu per cangkir. Orang antre foto.
Nenek gue tersenyum setiap kali gue cerita.
Katanya: “Dulu kamu bilang, bau obat.”
Gue diem.
Sekarang gue bayar 55 ribu buat minum yang sama, difilter aesthetic, diminum sambil laptop di kafe.
Nenek nggak marah. Nggak ngomel. Cuma ingetin: “Jahenya jangan dikit-dikit. Biar hangat perutnya.”
Studi Kasus #3: Dapur Rumah vs Dapur Influencer
Ini riset kecil-kecilan. 20 perempuan urban 25-35. Gue tanya: apa ritual kesehatan pagi lo?
Jawaban terbanyak:
- Lemon water (11 orang)
- ACV (7 orang)
- Air putih biasa (2 orang)
Gue tanya lagi: apa ritual kesehatan pagi ibu lo?
- Air hangat/jahe (14 orang)
- Kopi tubruk (4 orang)
- Nggak tau (2 orang)
Selisihnya nganga.
Kita minum lemon water karena influencer bilang “alkaline”. Tapi ibu kita minum air hangat karena… yah, itu aja udah turun-temurun. Tanpa penjelasan ilmiah, tanpa jurnal, tanpa hype.
Tapi 30 tahun kemudian, ilmiahnya ketemu: air hangat bantu lancarkan pencernaan, stabilkan suhu tubuh, kurangi peradangan.
Nenek kita tuh profesor. Cuma ijazahnya nggak digantung di dinding.
Data Yang Bikin Mikir
Survey iseng. 150 responden wanita 25-35. Satu pertanyaan:
“Pernah nggak lo nolak makanan/minuman tradisional pas kecil, tapi sekarang malah nyariin?”
- 84% jawab: Pernah.
- 63% jawab: Sekarang malah rutin konsumsi.
Yang paling sering disebut:
- Wedang jahe
- Kunyit asam
- Beras kencur
- Air hangat
Kita nolak dulu karena “kuno”. Sekarang kita bayar buat dapet yang sama—cuma dikasih nama Inggris.
Wellness alami generasi muda itu sebenarnya cuma… pulang ke rumah. Tapi pulangnya lewat TikTok dulu.
Common Mistakes: Yang Bikin Kita Terjebak di Siklus Ini
1. Menganggap “lokal = murahan”
Kita punya bias. Diam-diam. Tapi nyata.
Kunyit asam: dijual mbak-mbak gerobak, 5 ribu. Golden milk: dijual kafe, 55 ribu. Padahal bahan baku: sama. Proses: lebih ribet golden milk.
Tapi kita milih yang 55 ribu. Karena ada storytelling-nya. Ada brand-nya. Ada hashtag-nya.
Kunyit asam cuma punya rasa. Nggak punya strategi marketing.
2. Mencari validasi dari luar sebelum mengakui milik sendiri
Ini sakit, tapi nyata.
Kita baru percaya air hangat itu sehat setelah TikTok bilang. Padahal ibu kita udah bilang dari TK. Tapi ibu kita nggak punya 2 juta followers. Jadi ya kita anggap angin lalu.
3. Self-care = beli produk baru
Kapitalisme bikin kita percaya: self-care itu harus beli sesuatu. Matcha whisk, botol infused water, ACV organik import.
Padahal self-care paling sederhana: bangun, minum air anget, duduk sebentar, napas. Gratis.
Tapi gratis nggak laku. Gratis nggak bisa dijadiin konten.
4. Malu sama yang “kampungan”
Jujur aja. Lo pernah nggak malu bawa bekal nasi pecel ke kantor karena temen-temen pada bawa salad bowl?
Gue pernah. Sering malah.
Sekarang? Tren Indonesian food lagi naik di luar negeri. Orang bule pada antre pecel lele. Baru kita ikut-ikutan bangga.
Lucu ya. Butuh validasi dari luar buat akhirnya nerima yang dari rumah.
Tips Praktis: Mulai Dari Yang Udah Ada di Dapur
Bukan nyuruh lo ninggalin tren. Lo boleh tetep minum matcha, makan salad, beli kombucha. Nggak masalah.
Tapi coba tambahin ini. Pelan-pelan. Nggak usah revolusi.
1. Ganti air es pagi hari dengan air hangat
Satu gelas cukup. Nggak usah pake lemon, nggak usah pake madu. Air doang. Rasain seminggu.
Gue jamin: perut lo bakal bilang makasih. Nggak percaya? Coba. Gratis.
2. Tanya ibu/nenek: “Dulu, Emak minum apa pagi-pagi?”
Ini penting. Bukan cuma buat dapet resep. Tapi buat jembatan.
Kita sering lupa: ibu kita juga pernah muda. Pernah coba ini-itu. Pernah dapet ilmu dari ibunya. Itu rantai pengetahuan yang nggak kalah ilmiah—cuma nggak ditulis di jurnal.
3. Rebranding dikit, tapi jangan malu
Lo boleh kasih nama keren. Air kunyit jadi golden turmeric tonic. Jahe sereh jadi citrus ginger infusion. Nggak apa-apa.
Yang penting: lo tau itu dari rumah. Lo nggak perlu pura-pura nemu sendiri.
4. Satu minggu sekali, “pulang rasa”
Kamis gue tetep minum matcha latte. Tapi Jumat pagi gue minum wedang jahe bikinan sendiri. Pakai gula aren asli, bukan pemanis buatan.
Ini ritual. Bukan kompetisi.
Sesuatu Yang Baru Gue Pahami
Umur 29.
Gue baru ngerti kenapa ibu gue tiap pagi minum air hangat. Bukan karena diet. Bukan karena glowing. Bukan karena tren.
Tapi karena itu cara dia bilang ke tubuhnya: selamat pagi, kita akan baik-baik saja hari ini.
Ritual itu nggak butuh jutaan view. Nggak butuh caption bijak. Nggak butuh filter aesthetic.
Cuma butuh konsistensi.
Dan kita, generasi TikTok, baru bisa konsisten kalo ada yang viral. Kalo ada yang endorse. Kalo ada yang bikin tutorial 60 detik.
Padahal ibu kita udah bikin tutorial 30 tahun, tanpa kamera, tanpa edit.
Cuma sayangnya kita nggak nonton.
Jadi, Apakah Tren “Becoming Chinese” Itu Salah?
Nggak.
Tren itu baik. Tren itu bikin kita penasaran. Tren itu jembatan.
Masalahnya: kita berhenti di jembatan. Kita pikir ujung perjalanan adalah menjadi China. Padahal ujung perjalanan adalah pulang.
Pengaruh budaya asing terhadap gaya hidup itu nggak selalu buruk. Kadang dia cuma cermin: ngasih liat apa yang selama ini ada di depan mata, tapi nggak pernah kita liat.
Kita pikir kita nemu hal baru. Padahal kita cuma nemu kemasan baru.
Tapi nggak apa-apa. Yang penting akhirnya pulang.
Lo inget nggak, terakhir kapan ibu lo nawarin minum, terus lo bilang “ah panas, males”?
Atau lo bilang “gue lagi intermittent fasting, Ma”?
Atau lo diem aja sambil scroll HP?
Besok pagi, sebelum lo buka TikTok, coba buka dulu kulkas. Atau liat teko di meja makan.
Kalo ada air anget, tuang. Minum. Rasain.
Bukan karena China. Bukan karena tren. Bukan karena influencer.
Tapi karena itu cara ibu lo jagain lo—jauh sebelum lo tau apa itu wellness.
Dan dia nggak pernah minta endorse.